Dalam Islam, emas dan perak termasuk harta yang memiliki nilai tinggi dan dapat berkembang sehingga keduanya menjadi objek zakat. Ketentuan zakat ini berlaku apabila harta telah mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Selain emas dan perak murni, pembahasan fiqih juga mencakup perhiasan yang digunakan sehari-hari maupun yang disimpan sebagai aset.
Pengertian Perhiasan dalam Islam
Perhiasan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk memperindah atau menghias diri. Dalam praktiknya, perhiasan bisa berupa:
- Cincin
- Kalung
- Gelang
- Anting
- Jam tangan mewah
- Aksesori berbahan emas atau perak
Dalam kajian fiqih, perhiasan yang paling sering dibahas sebagai objek zakat adalah yang terbuat dari emas dan perak.
Mengapa Emas dan Perak Wajib Dizakati?
Para ulama menjelaskan bahwa emas dan perak memiliki potensi untuk berkembang nilainya dan dapat disimpan sebagai kekayaan. Oleh sebab itu, keduanya dipersamakan dengan harta perdagangan dan diwajibkan zakat ketika telah mencapai nisab dan haul.
Selain berbentuk batangan, zakat juga dapat berlaku pada:
- Logam mulia
- Koin emas/perak
- Bejana emas atau perak
- Suvenir berbahan emas
- Perhiasan tertentu
- Simpanan emas dan perak
Nisab Zakat Emas dan Perak
Ukuran nisab zakat emas dan perak secara umum adalah:
- Emas: sekitar 77,5 gram hingga 85 gram
- Perak: sekitar 543,35 gram hingga 595 gram
Perbedaan angka muncul karena perbedaan pendapat ulama dan metode konversi ukuran klasik ke gram modern. Apabila jumlah kepemilikan telah mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun hijriah, maka zakat wajib dikeluarkan sebesar 2,5%.
Perhiasan yang Tidak Wajib Dizakati
Mayoritas ulama berpendapat bahwa perhiasan emas atau perak yang digunakan secara wajar oleh perempuan untuk berhias tidak wajib dizakati. Jenis ini disebut huliyyun mubah atau perhiasan yang penggunaannya diperbolehkan.
Contohnya:
- Anting
- Gelang
- Kalung
- Cincin yang dipakai sewajarnya
Selama digunakan secara normal dan tidak berlebihan, maka tidak ada kewajiban zakat menurut mayoritas mazhab selain sebagian pendapat dari mazhab Hanafi dan Malikiyah.
Perhiasan yang Wajib Dizakati
Perhiasan menjadi wajib dizakati apabila:
- Digunakan untuk tujuan yang diharamkan
- Disimpan sebagai investasi atau tabungan
- Digunakan secara berlebihan (israf)
Contohnya:
- Emas yang dipakai laki-laki
- Wadah makan dari emas atau perak
- Perhiasan yang hanya disimpan
- Perhiasan berlebihan dengan nilai sangat besar
Jenis ini dipersamakan dengan harta simpanan sehingga wajib dikenai zakat ketika mencapai nisab dan haul.
Cara Menghitung Zakat Emas
Rumus zakat emas:
Total emas × 2,5%
Contoh:
Seseorang memiliki emas simpanan 100 gram selama satu tahun penuh. Jika nisab menggunakan standar 85 gram, maka emas tersebut wajib dizakati.
100×2,5%=2,5
Maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 gram emas atau senilai harga emas tersebut.
Zakat Uang Simpanan dan Emas Digital
Uang simpanan modern juga sering dianalogikan dengan emas dan perak karena sama-sama memiliki nilai simpan. Nisabnya biasanya disetarakan dengan harga 85 gram emas murni.
Dalam perkembangan saat ini, masyarakat juga mengenal emas digital dan tabungan emas. Diskusi publik menunjukkan bahwa emas digital memiliki selisih harga beli dan jual (spread) yang perlu diperhatikan sebelum dijadikan instrumen investasi jangka pendek.
Penutup
Zakat emas, perak, dan perhiasan memiliki ketentuan yang cukup rinci dalam fiqih Islam. Tidak semua perhiasan wajib dizakati, karena hukum zakat bergantung pada tujuan penggunaan, cara pemakaian, serta status kepemilikannya. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menunaikan zakat secara tepat sesuai syariat.
Referensi utama:
NU Online – Ketentuan Zakat Emas, Perak, dan Perhiasan





